Keberadaan Rumah Makan Kampung Bakau di Hutan Mangrove Perlu di Pertanyakan?

Keberadaan Rumah Makan Kampung Bakau di Hutan Mangrove Perlu di Pertanyakan?

Sabtu, 07 Desember 2019, 8:18:00 AM
Pasang iklan


Kasir rumah makan Ibrahim

Vnews.co.id - Kendari,( Sulawesi Tenggara),Hutan mangrove atau lebih dikenal dengan hutan bakau adalah hutan yang  tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah;salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut.

Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi  dan evolusi.


hutan Mangrove juga Mempunyai Fungsi ekologis.

Fungsi ekologis hutan mangrove itu adalah sebagai habitat atau tempat hidup binatang laut untuk berlindung,mencari makan,atau berkembang biak.Fungsi ekologis lainnya untuk melindungi pantai dari abrasi laut.

Namun bagaimana jadinya jika hutan Mangrove di gunakan sebagai tempat usaha untuk kepentingan Pribadi semata dan dengan sengaja menebang beberapa pohon mangrove demi membangun sebuah tempat usaha Pribadi.

Sementara itu Pemerintah Pusat sangat Menginginkan keberadaan Hutan Mangrove itu terus di lestarikan dan terus di awasi kelangsungan hidup perkembang biakanya.

Karena hal itu juga Merupakan salah satu Nawaicita Presiden joko widodo melalui kementrian Perikanan dan Kelautan.

Hal ini bisa di pastikan langsung dari keterangan Mentri Kelautan dan Perikanan "Puji astuti" beberapa waktu yang lalu"di stasiun televisi.

Menteri Kelautan dan Perikanan"(Susi pudjiastuti)" mengatakan bahwa "perusak hutan mangrove bisa dikenakan denda Rp 1,5 miliar".

 Menurut M Firman (Direktur Konservasi Tanah dan Air, Dirjen BPDAS-PS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) bahwa "berbagai kepentingan seperti tambak, pemukiman, perkebunan, industri dan infrastruktur pelabuhan, seringkali mengorbankan keberadaan mangrove". Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, rasa memiliki dan memiliki rasa merupakan rasa yang positif, dan akan manis jika dibingkai dengan "manajemen rasa yang kolaboratif"

keberadaan Rumah Makan Kampung Bakau yang berada di pesisir by Pass berhadapan dengan Masjid Al-Alam,ini Patut untuk di Pertanyakan Mengingat dari Hasil Pantauan Awak Media ini Jumat 06/12/2019,Melihat beberapa Pohon bakau  yang di tebang demi untuk sebuah bangunan pribadi

Sementara itu Ketika Awak Media ini berusaha Menkonfirmasi Pihak Pemilik Rumah Makan Kampung Empang tersebut hanya bisa bertemu seorang Kasir yang Mengaku ber-nama" ibrahim"iya Mengatakan Rumah makan ini sudah berjalan hampir dua tahun.

Kemudian iya juga membeberkan bahwa"iya beberapa waktu yang lalu,
Pernah di tegur oleh dinas tata ruang kota."katanya kami di anggap merusak lingkungan."
Di suruh bongkar.aktivitas rumah Makan Kampung di suruh di hentikan"ungkapnya pada Media ini,Jumat 06/12/2019.

Sementara Pihak Pemilik Rumah Makan Kampung Bakau saat berusaha di konfirmasi lewat via whatshapp"iya hanya mengatakan?

"Tanyakan dulu ke instansi yg terkait apakah bakau termasuk hutan lindung? Kalau ada mi info nya baru ketemu dgn sy."katanya singkat.

Hingga Berita ini di turunkan pihak Media ini Masih berusaha Mengkonfirmasi Pihak Pihak terkait atau Yang berkompeten
(Hendra)

TerPopuler