Negeri Darurat Corona, Tolong Pak, Selamatkan Nyawa Rakyat Kami!

Negeri Darurat Corona, Tolong Pak, Selamatkan Nyawa Rakyat Kami!

Minggu, 15 Maret 2020, 2:11:00 PM
Pasang iklan



Oleh, Gugun Gumilar, Mahasiswa S3 di Dublin. 

Sekarang giliran saya mau kritik para Pejabat Negara itu ! Sobat, bernegara itu harus menggembirakan, tidak usah tegang dan baper. Negara juga tidak perlu takut, malu, dan berkerut kening, saat rakyat ada yang mengkritik atau sekali pun berbeda pendapat. Kritik bukan berarti anti Negara dan anti Pancasila. Kritik itu sehat dan demokrasi hidup. Masih ingat “Debat Sengit” “Piagam Jakarta” tahun 1945? Begitulah contoh Praktek Demokrasi kita. 

Anda kesal? Marah? Panik? Gregetan? Campur aduk? Rasanya sudah di ubun-ubun bukan? Ya kalimat itu yang dihadapi rakyat Indonesia sekarang ini dan rakyat dunia. Cara Negara menangani pandemik corona virus sangat buruk sekali. Setiap pejabat negara mulutnya seenaknya ngomong. Gawat !

Virus Corona diumumkan masuk ke Indonesia pada awal Maret. Bukan hanya terlambat pencegahan, Negara pun gagap, panik dalam antisipasi penyebaran virus ini. Selama ini negara menutupi kasus virus corona dan menunggu momen yang tepat untuk mengumumkan. Parah !

Seharusnya Negara berfikir dan mencegah virus ini dari awal.  “Tasharruf al-imam manuthun bi maslahah al-ra’iyyah”, kebijakan pemimpin harus mengacu kepada kebaikan rakyatnya. Karena itu kebijakan yang diambil negara harus mengacu kepada kepentingan rakyat yang banyak bukan golongan. Saya ingat kepada karya Antropolog Amerika Serikat, Clifford Geertz: “Negara Teater”, dimana Negara Teater, penguasa  mengutamakan seremoni, bahkan ketika Negara itu akan hancur akibat marabahaya, (Clifford James Geertz , an American anthropologist).

Padahal, jika anda masih percaya kepada ilmu pengetahuan atau sains. Para ilmuan dan para pakar kesehatan termasuk Harvard university telah memperingatkan ini pertengahan February, WHO mengkritik penangan virus kepada Indonesia, negara-negara asing pun sama memperingatkan kepada pemerintah supaya “NGAKU” bahwa virus sudah masuk Indonesia. 

Sejak awal Negara Ngeyel, ngeles, harusnya tidak usah menutupi dan malu mengumumkan virus korona. Ini bukan aib. Sekarang rakyat sudah melek informasi dan cerdas tidak bisa dibohongi. Rakyat pun sengsara dan nyawa terancam.

Kegaduhan soal Pandemik Virus Corona  ini menunjukkan buruknya kinerja dan komunikasi publik Pemerintahan Joko Widodo periode kedua. It is bad communication strategy. Kegagapan dan kebobrokan ini ini justru sangat merugikan Pemeritahan Joko Widodo dan Rakyat jadi korban. 

Protokol corona dan  satgas juga terlambat dibuat, gagap, kelimpungan, selalu “misleading” informasi antara Kepala Negara, Mentri dan pembantu-pembantunya.  Lalu, dampaknya sangat fatal soal “trust” kepada Negara. Nah, sekarang justru korban makin bertambah, dan terus bertambah. Tidak ada keseriusan dari negara dalam pencegahan wabah ini sejak dini,  bahkan sekarang lingkaran Istana pun alias Mentri ada yang terkena virus Corona. Khawatir wabah ini seperti beberapa negara di Eropa seperti Italia sekitar 1. 300 orang meninggal dunia dan Spanyol ratusan orang meninggal dunia. Semoga saja tidak.

Selain itu, juga diperparah dengan tidak ada kompetensi sejumlah Menteri, kabinet nano-nano berbagai rasa.  Ditambah para pembantu Kepala Negara di lingkaran Istana dari mulai Kepala Staff Kepresidenan, Watimpres, Seskab, Sekneg, Tenaga Ahli,  Staf-staf khusus, dan staf millenial tidak berfungsi. Gemuk dan tidak efisien. Bagi-bagi jabatan. Harusnya anda semua memberikan informasi dan membantu serius Kepala Negara karena anda semua digajih oleh rakyat.  

Sadly, Negara hanya memikirkan: Ibu kota baru itu pun masih mimpi di siang bolong, Salam Pancasila, cadar, celana cingkrang, ustad-ustad radikal, radikalisme, ribut politik keluarga: anak, menantu, istri, suami di Pilkada 2020 dan Pilpres 2024. Itu-itu terus yang dibahas. Parahnya, ditambah oleh para Bupati, Walikota dan  Gubernur sibuk main TIK-TOK ubur-ubur. 

Saya juga kritik Gubernur Jakarta saudara Anies. Gubernur Jawa Barat saudara Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah saudara Ganjar, kompak main TIK-TOK Ubur Ubur di stasiun TV. Pilpres masih lama Bung ! Kerja dulu lah.

Padahal saat itu sedang korban banjir dimana-mana, rakyat kelaparan, rakyat banyak meninggal dan Virus Corona sedang menyebar saat itu. Coba kalau anda mikir dan gunakan waktu itu untuk pencegahan Virus Corona. Gak Mikir, padahal rakyat lagi susah. Sekarang lagi ditambah penangan Virus Corona melibatkan intelejen, padahal disemua Negara ditangani Dokter Ahli dan Ilmuwan, Bukan Intelijen. Urus saja Harun Maskihu, Nurhadi, dan buronan lain Pak.

Betul-betul pejabat “Jaka Sembung Bawa Golok...Ya Tiktok… Ya Tiktok…..”

Indonesia seharusnya lebih sigap. Protokol standar penanganan krisis diabaikan, tidak melibatkan rumah sakit yang kompeten, penelitian dan dokter ahli. Yang perlu kita cermati, penyebarannya makin meluas dan Tracing belum tuntas, lalu jumlah kasus pasti bertambah terus-menerus. Kita dianggap oleh WHO sebagai negara yang tidak siap menghadapi persoalan corona virus. 

Check and Balance dari DPR, DPD dan MPR lemah. Sekarang orang-orang menyelamatkan diri masing-masing. Demokrasi lumpuh, rakyat bingung mencari sosok-sok Pemimpin yang amanah. 

Media pun begitu, sekarang lebih banyak pasar komersil dan entertainment. Media lebih banyak nyebut Lucinta Luna, Rafi Ahmad, BCL, Sule, Tukul Arwana, Ariel, Indonesian idol, dll., ketimbang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Begitu pun para ilmuan, cendikiawan, Doktor dan Professor takut mengkritik kebijakan negara. Ruang diskusi dibatasi.

Kita rindu sosok Negarawan seperti Habibie, Gusdur, Munir, Nurcholish Madjid, dll., yang berani mengkritik dan melurusan kebijakan negara. Jabatan itu amanah dan sementara. Cukup santuy saja dan elegan. Gitu aja kok repot ! Sosok Gusdur dan Habibie mengajarkan kita seperti itu. Jangan sampai menghilangkan akal  fikiran sehat kita.

Lalu, sampe kapan kita akan menjadi negara “Benar-Benar Maju”? bukan hanya “stempel”negara maju. Semoga menjadi renungan kita bersama.

Sekian dan terima kasih.

Dublin, March 15, 2020

TerPopuler